#4 Dunia anak Dunia Bermain

Review dari blog

http://creativeoverflow.net/how-to-enhance-creativity-in-school-children/

Image

“Lompat Tali, Bermain Memori, Mewarnai dan Menggambar” hal-hal tersebut menjadi hal yang kita gemari saat masih kanak-kanak. Dunia anak adalah dunia bermain, bermain disini adalah sebagai sarana belajar anak-anak untuk melatih kreatifitas dan juga melatih kinerja otak mereka. Saat anak-anak pertumbuhan otak sangatlah pesat, maka mainan yang harus diberikan harus permainan yang ada sisi berpikirnya seperti bermain kartu memori dimana kita harus mengingat tumpukan kartu yang sama ditempatkan di antara kartu2 yang tertutup. 

Image

Berikut Tips untuk membangun kreatifitas anak

1. Memilihkan sarana bermain yang sesuai
Pada dasarnya, anak memiliki energi yang berlebih. Bermain merupakan penyaluran terbaik untuk membuang surplus energi mereka itu. Dengan bermain, selain memperoleh kegembiraan, kenikmatan, dan kepuasan, anak juga akan mendapatkan manfaatnya, seperti bertumbuhnya segi fisik-motorik, mental-intelektual/kognitif, sosial, moral, emosional, dan tentunya kreativitas. Dengan bermain, anak sekaligus belajar tentang konsep bentuk, ukuran, warna, jumlah, dan kegunaan objek. 
Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orangtua sedapat mungkin menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan berpikir dan daya interaksi anak.

2. Kenalkan dengan lingkungan Sosial
Pengenalan terhadap lingkungan sosial akan memberikan bekal empiris kepada anak yang kelak bermasyarakat dalam alam pergaulan dewasa. Anak dilatih mengerti fungsi berbagi diri, pada saat yang sama seorang anak, selain menjadi dirinya sendiri, juga merupakan bagian yang organis dari sebuah kelompok, komunitas. Dalam hal ini, anak berkembang menjadi dirinya sendiri, sekaligus berkenalan dengan aturan main, dengan norma, sehingga dia dapat bergaul dengan wajar.

3. Ajak berhubungan dengan alam
Mengajak anak berhubungan dengan alam tidak sebatas mengenalkan mereka dengan nama-nama benda yang ada di sekitarnya, melainkan juga merangsang imajinasi anak untuk dapat memanfaatkan benda-benda tersebut, walaupun pemanfaatannya untuk hal-hal yang sederhana. Misalnya, memanfaatkan benda yang ada di sekitarnya untuk dibuat mainan. Pemanfaatan bahan mentah sehingga menjadi bentuk jadi ini akan membuka kesadaran anak akan perlunya berkreasi dengan alam. 
Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam. Sekali waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki di atas tanah, dan jangan terlalu memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu. Agar mereka dapat merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.

4. Jangan asal melarang
Seringkali, cara pandang terhadap suatu masalah antara orang dewasa dengan anak-anak berbeda. Sesuatu yang menurut anak-anak baik untuk dikerjakan, bisa jadi sebaliknya di mata orang dewasa. Untuk itu, selami pikiran anak-anak, pahami maksud dari apa yang dia kerjakan, dan jangan asal melarang.
Bila kita terpaksa melarang apa yang sedang dikerjakan anak-anak, seperti mencoret-coret dinding, atau merusakkan barang-barang, usahakan tidak melarang secara tegas. Beri dia pengertian dengan kalimat yang mendidik dan dapat dipahami oleh anak. Usahakan untuk memberi pengertian kepada anak bahwa Anda sebenarnya cukup menghargai proses kreatif yang dia kerjakan. Selama ini yang sering terjadi, anak dilarang mengerjakan segala sesuatu tanpa penjelasan yang memadai, padahal penjelasan sangat perlu untuk tidak memastikan kreativitas anak.

5. Beri kebebasan dan keamanan psikologis
Kreativitas anak dapat tumbuh pesat apabila mendapat kebebasan dan keamanan psikologis dalam berkreativitas. Kebebasan dan keamanan psikologis yang dimaksud adalah, anak bebas mengerjakan segala sesuatu tanpa tekanan/paksaan serta larangan dari lingkungan terutama dari orang tua. Anak dibebaskan mengerjakan apa saja. Tugas orangtua hanya sebatas memberi pengarahan, tanpa melakukan paksaan. Bila kebebasan beraktivitas didapatkan, secara psikologis anak akan merasa aman untuk berkreasi, tanpa merasa takut dikecam, disalahkan, atau dimarahi.

6. Hargai usahanya
Jangan sekali-kali menyepelekan kerja dan usaha anak. Sekecil apapun, hargailah. Menghargai usaha anak memungkinkan anak bisa menghargai barang, dan bukan harga barang itu. Penghargaan yang diberikan akan menciptakan iklim sehat dalam batin anak. Anak akan merasa bahwa kehadirannya diterima, diperhatikan, dan diakui. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang besar pada diri anak.

7. Libatkan dalam aktifitas Anda
Sekali waktu, libatkan anak dalam aktivitas yang Anda kerjakan. Misalnya, menyuruh anak membubuhkan garam pada masakan, memberikan sisa-sisa potongan sayuran yang Anda masak, dan membiarkan dia sibuk berimajinasi dengan masakannya sendiri yang berbahan sisa-sisa masakan Anda. Bisa juga dengan mengajaknya membetulkan kursi, sepeda, atau perabot rumah-tangga yang rusak, menyulam, merangkai bunga, atau membuat sesuatu dari bahan bekas hingga menjadi berguna. 
Cara ini akan menyuburkan kegairahan anak dengan pengetahuan yang dia miliki. Anda juga bisa menanamkan pengetahuan, memberikan pelajaran dengan cara yang menyenangkan. Dan yang terpenting, anak akan termotivasi dengan contoh-contoh yang Anda berikan.

8. Ciptakan komunikasi yang sehat
Komunikasi yang sehat adalah terjalinnya dialog akrab dua arah, antara orang tua dan anak, dalam level pengetahuan anak, tentang berbagai hal yang telah dimengerti anak, atau tentang hal yang semestinya diketahui anak. Komunikasi yang sehat akan menciptakan kedekatan antara orangtua dan anak, baik secara fisik maupun psikis. Kedekatan inilah yang melahirkan kebersamaan dan kehangatan hubungan yang merupakan gizi bagi jiwa anak.
Bila komunikasi dua arah terjalin baik, anak tak akan ragu dan takut mengungkapkan isi hati, pikiran, keinginan, dan maksud yang merupakan pengejawantahan dari kreativitas yang terselubung. Orangtua pun akan dapat mengerti dan memahami kehendak anak, sehingga dapat mewujudkan sarana dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mewadahi kreativitas anak.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s